ReincoNews – Data dari konsultan properti internasional seperti Colliers, dan Savills menunjukkan bahwa tingkat okupansi hotel sangat bergantung pada lokasi geografis, jenis pasar, serta strategi adaptasi yang diterapkan masing-masing operator. Meskipun tekanan masih terasa di pusat-pusat bisnis seperti Jakarta dan sekitarnya, sinyal positif justru datang dari kawasan wisata yang tetap bergairah.
Kawasan seperti Bali, Yogyakarta, dan Bandung tercatat sebagai wilayah dengan performa terbaik dalam hal okupansi hotel. Berdasarkan laporan Colliers Q1 2025, rerata okupansi di kota-kota ini sudah menembus angka 65–70%, didorong oleh pulihnya wisatawan domestik dan peningkatan arus turis internasional, terutama di Bali yang kini kembali menjadi destinasi utama wisatawan dari Australia, India, dan Eropa. Kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) yang mulai bergulir juga ikut menyumbang peningkatan tingkat hunian hotel, meskipun skalanya masih belum sepenuhnya pulih seperti masa sebelum pandemi.
Sebaliknya, kondisi berbeda terjadi di kawasan Jabodetabek. Hotel-hotel di Jabodetabek masih menghadapi tantangan berat dalam mendongkrak okupansi, yang dalam beberapa kasus stagnan di bawah 50%. Salah satu penyebab utama adalah efisiensi anggaran belanja pemerintah, khususnya perjalanan dinas, yang secara historis menjadi andalan okupansi hotel kelas menengah dan atas di ibu kota. Selain itu, banyak perusahaan swasta yang juga melakukan pemangkasan anggaran perjalanan dan MICE, beralih ke pertemuan daring, serta memangkas kebutuhan penginapan bagi staf.
Dalam situasi seperti ini, strategi promosi dan penetapan harga menjadi kunci kebangkitan. Menurut studi Horwath HTL tahun 2024, mayoritas hotel yang berhasil menjaga okupansi tinggi menerapkan strategi harga fleksibel yang disesuaikan dengan hari dan segmen tamu. Program bundling seperti “staycation + breakfast + pickup” atau diskon akhir pekan terbukti mampu menarik kembali tamu lokal. Hotel-hotel juga mulai menawarkan fasilitas tambahan tanpa biaya, seperti early check-in, akses coworking space, dan sarapan dengan menu lokal khas, sebagai bagian dari pendekatan “value for money” yang lebih kuat.
Selain harga, inovasi layanan menjadi penentu diferensiasi. Beberapa hotel sudah mulai mengadopsi teknologi self check-in, layanan digital concierge melalui WhatsApp, serta menghadirkan fasilitas-fasilitas yang mendukung gaya hidup modern seperti gym 24 jam, area kerja fleksibel, dan mini-event komunitas lokal. Di sisi lain, strategi komunikasi yang mengangkat nilai lokal — dari kuliner tradisional hingga pengalaman budaya — menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi segmen traveler muda dan keluarga yang mencari pengalaman otentik.
Melihat tren ini, arah pengembangan hotel ke depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan pelaku usaha untuk menyesuaikan model bisnis dengan perilaku pasar baru. Segmentasi pasar akan semakin kompleks, dengan hadirnya tren bleisure (business + leisure) dan peningkatan kebutuhan akan akomodasi fleksibel dan efisien. Hotel yang terlalu bergantung pada satu segmen, seperti government traveler atau corporate long stay, kemungkinan akan menghadapi tekanan lebih besar.
Meski demikian data Savills menunjukkan okupansi hotel di segmen atas masih terlihat tidak terpengaruh kondisi ekonomi. Market hotel di kelas oni cenderung stabil.
Penulis: Ilham M Wijaya