ReincoNews – Selama kepala daerah hanya melihat jabatannya sebagai karier politik, minim inovasi, tidak ada spirit meningkatkan potensi daerah maka kondisi daerah tidak aka pernah maju.
Sejatinya, kursi kepala daerah merupakan panggilan jiwa untuk mengabdi kepada rakyat, memajukan potensi daerah dengan cara seperti layaknya seorang CEO perusahaan besar yang visioner. Cerdas mengelola aset, berorientasi pada manfaat publik, dan memastikan setiap keputusan politik berbuah kesejahteraan, bukan sekadar pencitraan.
Dunia berubah cepat, kebutuhan masyarakat makin kompleks, dan ruang fiskal makin sempit. Kalau pola pikir lama masih dipertahankan, daerah akan terus tertinggal, Potensi pendapatan daerah tidak hanya dari sektor pajak ansich juga dar dana transfer pusat.
Apalagi ketika anggaran dari pusat dikurangi, imbasnya langsung terasa hingga ke tingkat daerah. Ruang fiskal menyempit, program pembangunan terpaksa dipilah lebih ketat, bahkan sekadar menjaga layanan publik saja sudah menjadi tantangan. Dalam situasi seperti ini, kepala daerah tak lagi bisa hanya menjadi administrator atau @kurir politik” yang asal menjabat, duduk manis menunggu bantuan dana pusat.
Kepala daerah harus berani mengambil risiko untuk naik kelas: menjadi seorang CEO bagi wilayahnya sendiri.
Kenapa CEO? Karena pola pikir seorang pemimpin perusahaan sangat relevan dengan kebutuhan daerah saat ini. CEO dituntut jeli melihat potensi, berani mengambil keputusan strategis, dan mampu mengelola aset agar mendatangkan keuntungan berkelanjutan. Nah, logika yang sama seharusnya diterapkan oleh kepala daerah.
Namun, penting digarisbawahi: menjadi CEO bagi daerah bukan berarti menjual aset negara atau cenderung pro-pasar mementingkan bisnis. Melainkan sikap cerdas dalam mengelola aset, bagaimana aset daerah bisa diberdayakan, dimanfaatkan sesuai fungsi terbaiknya, dan tetap berpihak pada kepentingan publik. Dengan begitu, kepala daerah tetap bisa menjaga kepentingan rakyat, sekaligus mengoptimalkan nilai tambah bagi daerah.
Menggerakkan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) secara profesional juga menjadi kunci. BUMD jangan lagi jadi “parkiran politik” atau sekadar alat bagi elite, melainkan harus dijalankan dengan tata kelola modern, optimalisasi aset yang terukur, serta transparansi penuh. Dengan sistem manajemen yang akuntabel dan berani menutup celah korupsi, kepercayaan publik akan tumbuh. Kepercayaan inilah yang akan menjadi modal besar untuk mengundang investasi, memperluas kolaborasi, dan menjadikan aset daerah benar-benar bekerja bagi kesejahteraan rakyat.
Untum menjadi CEO kepala daerah perlu melakukan beberapa hal berikut ini :
Pertama, aset daerah sering kali hanya dipandang sebagai catatan inventaris. Padahal, banyak aset potensial yang bisa dimaksimalkan untuk menambah pendapatan asli daerah (PAD). Tanah kosong, gedung tua, hingga lokasi strategis milik pemerintah bisa disulap menjadi sumber investasi baru, asal dikelola dengan visi bisnis yang jelas.
Kedua, dengan mindset CEO, kepala daerah dituntut tak hanya menjaga aset, tetapi mengoptimalkannya. Mengubah beban biaya menjadi mesin pendapatan. Gedung kosong bisa disewakan, lahan tidur bisa jadi pusat ekonomi baru, bahkan kerja sama strategis dengan swasta bisa melahirkan proyek-proyek yang memberi nilai tambah.
Ketiga, kepercayaan publik dan investor akan tumbuh bila aset dikelola dengan transparan dan profesional. Kepala daerah yang bisa membuktikan bahwa setiap rupiah investasi menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat akan lebih mudah menarik mitra bisnis maupun dukungan pemerintah pusat. Kepercayaan ini adalah modal tak ternilai.
Singkatnya, kepala daerah hari ini harus memimpin dengan cara berbeda. Bukan hanya sebagai pejabat politik, tapi juga sebagai CEO yang piawai mengelola sumber daya, berorientasi pada hasil, dan berani mengeksekusi peluang. Dengan begitu, daerah bukan lagi sekadar menunggu bantuan pusat, melainkan bisa berdiri lebih mandiri, kuat, dan menguntungkan bagi warganya.
Karena di era keterbatasan, pemimpin sejati bukan yang banyak mengeluh, tapi yang mampu melihat peluang di balik tantangan. Saatnya kepala daerah menjadi CEO bagi asetnya sendiri.
Dan untuk itu, dibutuhkan pemetaan aset, pemahaman HBU (Highest and Best Use) Study, serta strategi asset management yang tepat. Bersama kami, kepala daerah bisa mengelola aset dengan lebih visioner, profesional, dan tentu saja menguntungkan bagi daerah.
Oleh : Ilham M Wijaya. SE, M.PWK
CEO Reinco Strategic