ReincoNews – Penentuan tarif sewa tentunya yg umum dengan cara membandingkan dengan kondisi pasar sewa. Namun hal ini tidak bisa dilakukan untuk perusahaan BUMN, mengingat akan ditanya oleh BPK bagaimana dasar pasar properti bekerja, SOP yg dijalankan dalam menentukan sewa? Dll,
Untuk itu Perum Bulog menggandeng Reinco Strategic dalam menyusun kajian tarif sewa dan penilaian aset, guna menjaga keseimbangan antara fungsi publik dan pemanfaatan komersial.
Sebagai salah satu BUMN strategis, Perum BULOG memegang peran penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Di balik tugas besar itu, BULOG memiliki aset yang tersebar luas di seluruh Indonesia—mulai dari gudang, kantor, hingga fasilitas pendukung. Aset ini bukan hanya infrastruktur logistik, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang bisa dioptimalkan melalui skema pemanfaatan komersial.
Namun, di sinilah tantangannya. Menentukan tarif sewa aset bukan perkara sederhana. Tarif yang terlalu rendah bisa merugikan perusahaan, sementara tarif yang terlalu tinggi bisa membuat aset tidak terserap. BULOG perlu menemukan formula yang adil, kompetitif, dan tetap mendukung keberlanjutan bisnis.
Pendampingan Strategis oleh Reinco Strategic
Untuk menjawab tantangan itu, BULOG menggandeng Reinco Strategic. Konsultan ini hadir bukan hanya untuk menghitung angka, melainkan juga menyusun kerangka kerja yang lebih besar: mulai dari penilaian aset, pembekalan keterampilan pegawai, hingga penyusunan standar operasional (SOP) penentuan tarif sewa.
Dalam proses pendampingan, banyak dinamika terungkap. Salah satunya adalah soal koordinasi antarunit serta keraguan pegawai dalam mengambil inisiatif karena belum ada pedoman yang seragam. Reinco Strategic kemudian membantu merumuskan formula berbasis fungsi aset, lokasi, dan prospek pasar. Dengan begitu, setiap keputusan tarif sewa bisa dipertanggungjawabkan secara transparan.
Metode Kajian yang Digunakan
* Kajian yang dilakukan melibatkan beberapa pendekatan utama:
* Benchmarking harga sewa di pasar lokal dan nasional, agar tarif BULOG tetap relevan dan kompetitif.
* Analisis Highest and Best Use (HBU) untuk aset strategis tertentu, sehingga pemanfaatannya benar-benar menghasilkan nilai optimal.
* Penyusunan SOP internal yang berlaku secara nasional, sehingga setiap unit BULOG di daerah memiliki acuan konsisten dalam menentukan nilai sewa.
Hasil kerja sama ini membawa dampak nyata. Transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan aset meningkat, sekaligus menghadirkan panduan yang jelas bagi pegawai BULOG di berbagai region. Lebih jauh, aset yang sebelumnya kurang produktif kini dapat memberikan nilai tambah melalui skema pemanfaatan sewa.
Bagi BULOG, pendapatan tambahan dari aset bukanlah tujuan utama, melainkan bonus yang mendukung misi besar sebagai penyedia pangan nasional. Dengan tata kelola aset yang lebih terukur, BULOG mampu menjaga keseimbangan antara fungsi publik dan kepentingan bisnis.
Kajian ini menunjukkan bahwa pengelolaan aset logistik tidak cukup hanya dengan menjaga fisiknya tetap terawat. Lebih dari itu, dibutuhkan strategi, transparansi, dan keberanian untuk membuka peluang nilai tambah.