ReincoNews – Tak semua gedung mampu langsung mengadopsi teknologi mahal. Ketika biaya operasional gedung jebol, sebagian pemilik masih mengandalkan cara konvensional untuk bertahan.
Salah satu langkah adalah memperketat pengeluaran rutin. Misalnya, jadwal AC dan pencahayaan diatur lebih disiplin, serta kontrak vendor maintenance ditinjau ulang.
Di sisi manajemen, muncul pertanyaan klasik: gedung kelola sendiri atau tunjuk ahli? Tim internal dianggap lebih hemat, namun manajemen profesional bisa lebih efisien berkat pengalaman panjang.
Jika dihitung, komponen pendapatan dan biaya tertinggi di gedung tetap berkisar pada listrik, air, AC, dan fasilitas publik. Tanpa disiplin ketat, angka ini bisa cepat menggerus profit.
Masalah makin pelik pada gedung tua. Usia bangunan membuat biaya perawatan besar, sementara tenant sering menuntut kualitas lebih baik.
Di sinilah kreativitas diperlukan. Komersialisasi ruang gedung jadi opsi efektif. Area kosong diubah jadi retail F&B kecil, rooftop jadi event space, hingga area parkir bisa disewakan untuk aktivitas komunitas.
Dengan pendekatan ini, biaya tinggi bisa ditutup dari tambahan pemasukan. Tidak perlu langsung masuk ke digitalisasi, cukup memanfaatkan aset yang sudah ada.
Namun, strategi ini butuh keberanian pengelola untuk membuka diri pada model bisnis baru. Tidak sekadar bergantung pada sewa ruang kantor.
Banyak gedung yang berhasil bertahan justru karena kreatif mengelola sumber daya terbatas. Dari lobi jadi café, koridor jadi ruang iklan, hingga kolaborasi tenant untuk event bersama.
Artinya, inovasi non-digital tetap relevan. Selama ada disiplin efisiensi dan ide kreatif, gedung bisa tetap untung meski biaya operasional terus naik.